Sabtu, Agustus 30, 2014
   
Text Size

Melihat Peluang Bisnis “Keripik Tempe”

Pernah berkunjung ke kota Cilacap?? Pasti pernah mencicipi penganan khas kota ini. Yup, sudah pasti keripik tempe. Keripik tempe adalah produk industri rumahan di Desa Rawaapu, Patimuan, Cilacap. Tempe diiris tipis dicelupkan ke adonan tepung terigu encer lalu digoreng dengan minyak kelapa hingga kering. Hasilnya, adalah keripik renyah yang gurih dan lezat.

Produk industri kripik tempe di Desa Rawaapu menjadi industri rumahan yang banyak dikelola oleh kaum perempuan. Kripik tempe yang sudah digoreng lalu dibungkus dalam kemasan plastik berisi kurang lebih 8 buah. Label kemasan cukup dengan kertas fotokopi bertuliskan merek dan alamat produsen. Setiap bungkus keripik dijual secara grosiran ke pasar kecamatan dengan harga Rp 2.500,- selanjutnya dijual eceran dengan harga Rp 3.000,-

Membuat keripik tempe yang gurih perlu ketelitian dan kebersihan. Tempe harus terbuat dari kedelai yang bagus supaya pada saat vermentasi rasanya tidak pahit. Kedelai yang bagus juga memdahan pengirisan tempe menjadi lembaran kripik tipis. Selain itu, minyak kelapa yg digunakan harus berkualitas bagus supaya kripiknya wangi dan tidak sangit.

Menurut salah satu warga, para produsen kripik lebih memilih minyak kelapa buatan sendiri dibanding membeli minyak kelapa curah yang dijual di pasaran. Tempenya sendiri diambil dari Kecamatan Sidareja dan Gandrung yang dikenal dengan produsen tempe mendoan. Selain keripik di Desa Rawaapu juga berkembang industri rumahan makanan ringan lainnya, seperti sale pisang, kripik pisang, dan lain-lainnya.

Pemasaran produk industri rumahan makanan ringan di Desa Rawaapu selama ini tidak terlampau sulit. Mereka menitipkan produknya di warung-warung kecil dan pasar kecamatan. Jumlah permintaan barang biasanya terjadi pada masa-masa liburan karena banyak warga Desa Rawaapu yang bekerja di luar daerah memborongnya sebagai oleh-oleh.

Industri ini mampu menjadi penghasilan keluarga, terutama setelah masa tanam padi. Setelah panen warga banyak yang menganggur menunggu panen padi. Warga biasa menyebutnya sebagai musim paceklik. penghasilan terbatas, akhirnya para perempuan banyak yang berinisiatif membuat industri rumahan dan pedagang keliling. Dan kini usaha ini sudah menjadi peluang sukses bisnis rumahan.

Menambah penghasilan sekaligus membangun industri rumahan hingga menjadi produk khas kota tersebut pasti sangat menyenangkan dan menguntungkan bukan??.

Login Form

Data Pengunjung

Hari ini12
Kemarin238
Minggu ini1967
Bulan7802
Semua100984

Currently are 4 guests online